Featured Post Today
Latest Post

Senangnya Mencetak Kue Koya..


Pagi yang ceria anak-anak sudah tidak sabar menanti materi cookingday dan sbk untuk hari ini         
( sabtu, 1 maret 2014 ). Tepat ketika jarum jam mengarah ke angka 8.00 Cooking Day dan SBK pun dimulai, kali ini anak-anak sudah tahu mereka akan membuat dan mencetak kue koya.
Kue koya atau di sebut juga dengan kue satu adalah berbahan dasar kacang hijau yang telah di sangrai dan di haluskan kemudian diulen/dicampur dengan gula
halus dan ditambahkan dengan sedikit air matang.


Kegiatan cooking day diawali dengan penyampaian materi cara-cara pembuatan, bahan-bahan dan cara mencetak yang di sampaikan oleh masing-masing walikelas
dan ustadz/ustadzah yang lainya.kemudian bahan-bahan dan peralatan mulai di bagikan kepada tiap kelompok yaitu berupa campuran antara kacang hijau dan gula
yang telah siap untuk di cetak, nampan, sarung tangan plastik, cetakan dan juga cup mika untuk tempat kue koyah yang sudah di cetak, untuk satu kelas dikelompokan
menjadi 6 kelompok yang terdiri dari 4-6 anak ditiap kelompoknya.
 

Kemudian secara bergantian tiap anak mulai mencetak adonan dengan cara memasukan adonan kedalam cetakan untuk di tekan-tekan dengan jari sampai dirasa cukup
padat pada tiap lubang/pola yang ada pada cetakan. Setelah itu cetakan di balik dan di ketuk perlahan untuk mengeluarkan kue hasil cetakan, dan.....tara....ada kue
yang berbentuk bunga, ada yang seperti kerang, ada yang setengah bulat dan ada yang seperti bentuk daun, ada juga yang hancur tidak berbentuk. untuk anak yang
kue hasil cetakanya hancur kemudian kembali mencoba mencetak berulang -ulang sampai  mereka berhasil.


Semua anak merasa gembira mencoba untuk mencetak kue sebanyak-banyaknya, setelah kue -kue ini selesai di cetak lalu dikemas kedalam cup mika dan di streples
untuk di tunjukan dan diniai oleh ustadzahnya, untuk satu cup mika berisi 3-5 kue koya.

Tak terasa jarum jam sudah menunjukan pukul 09.00 pertanda kegiatan ini segera berakhir, anak-anak di bantu ustadz dan ustadzah pun mulai merapikan tempat
dan segera mengakhiri kegiatan ini, anak -anak tampak senang dan gembira mengamati kue koya hasil buatanya masing-masing. Kue koya pun segera mereka simpan untuk di bawa pulang kerumah sepulang sekolah nanti.


Ari..
0 komentar

KISAH ALTHATH SANG JUARA TAEKWONDO

Usianya baru menginjak 8 tahun, tetapi sudah memiliki prestasi yang luar biasa, khususnya dalam bidang olah raga beladiri taekwondo. Anak laki-laki kelahiran Purwokerto, 23 November 2005 ini awalnya senang bermain sepak bola. Tokoh favoritnya adalah Ibrahimovic. Pada saat ia bermain bola, ayahnya melihat dan menilai bahwa tendangan – tendangan Althath lebih mengarah ke tendangan beladiri. Sehingga ayahnya mendorong dan memasukkan Althath ke Satria Taekwondo Club (STC) yang berpusat di GOR Satria Purwokerto. Ia mulai bergabung dengan STC Purwokerto sejak duduk di bangku TK B. Sejak saat ia ia lebih menyukai taekwondo daripada sepak bola. Di STC ia dibimbing oleh 3 orang sabem (sebutan untuk pelatih taekwondo). Sabem Pungki khusus menangani strategi dan teknik pertandingan, Sabem Narto melatih gerak dasar dan melatih reflek, dan Sabem Dwi melatih fisik dan mental.
    Alasan orangtuanya untuk memasukkan Althath ke STC karena Althath anak laki-laki maka harus menguasai beladiri. “Awalnya saya ikutkan dalam latihan taekwondo biasa. Tetapi karena pengamatan dari sabem yang menilai bahwa Althath memiliki bakat menjadi atlit taekwondo, akhirnya dia dimasukkan dalam latihan khusus untuk menempa para atlit,” kata ayahnya. “Penilaian dari sabem berdasarkan 3 kriteria yaitu bakat, mental, dan struktur/kelenturan otot tubuh,” tambahnya.
    Ia menjalani latihan rutin sehari 2 kali yaitu pukul 15.30 – 18.00 dan pukul 19.30 – 22.00. Jika akan menghadapi even perlombaan maka latihan akan ditambah menjadi 3 kali sehari, yaitu pukul 05.00 – 06.00. Karena padatnya jadwal latihan yang harus dia ikuti, maka pada 2 bulan pertama Althath sempat terkena penyakit tipes. Sehingga dia harus istirahat total selama 3 bulan. ”Mungkin tubuhnya kaget, karena baru pertamakali mengikuti latihan fisik yang keras” kata ayahnya. Setelah pulih, Althath mulai mengikuti latihan kembali.
    Althath pertama kali mengikuti lomba ketika berumur 7 tahun, dalam Open Turnamen Karya Mandiri Cup di Pemalang pada tanggal 23 – 24 Februari 2013. Saat itu Althath langsung menjadi runner up (juara II) dan mendapat medali perak. Sejak itu Althath terpacu untuk lebih giat berlatih. Selain mengikuti lomba di Pemalang, Althath juga mengikuti lomba tingkat internasional di Bali yaitu pada even Bali Moks Internasional Junior Championship di Denpasar pada 11 – 13 januari 2014. Disana ia berhasil masuk ke babak perempat final. Even terakhir yang baru diikutinya adalah Jakarta Taekwondo Festival di Jakarta pada 1 – 2 Februari 2014. Di sana dia berhasil menjadi juara 1 dan meraih medali emas.
    Pertandingan yang cukup berat yang pernah ia jalani yaitu pada saat dia bertanding di Bali. Pada saat itu, ia bertanding melawan atlit dari Solo peraih medali emas pada even UNS Cup di Solo. Kondisi pangkal lengan dan pangkal paha Althat saat itu cedera, tetapi Althath tetap terus bertanding dan berhasil mengalahkannya. Hingga pada akhir perlombaan ia harus mendapat oksigen karena sesak nafas.
     Althath memang cukup aktif. Walaupun jadwal latihan taekwondonya sudah padat, tetapi ia juga mengikuti les Bahasa Inggris dan les renang. Althat memang harus disiplin dalam membagi waktunya. Walaupun kegiatannya sangat padat, tetapi dia tidak mengeluh. Orang tuanya selalu menekankan bahwa semua itu merupakan pilihan  Althath, jadi ia harus bertanggung jawab atas pilihannya itu, artinya Althath harus bersungguh – sungguh untuk mengikuti semua kegiatan yang sudah dipilihnya. “Untuk mengisi waktu kosong jika tidak ada kegiatan, ia memilih untuk menonton TV, bermain PS atau bermain sepeda bersama teman,” kata ibunya
     Althath memang sang juara yang pantas ditiru, meskipun ia sudah memiliki prestasi luar biasa dalam bidang olahraga taekwondo, ia tidak pernah mengesampingkan masalah belajar. Di sela-sela kesibukan latihannya, ia sempatkan untuk mengerjakan PR yang diberikan oleh gurunya. “Kalau ia sudah lelah pada malam hari, ia belajarnya pagi hari setelah mengerjakan sholat subuh,” kata ibunya. Alhamdulillah nilai raportnya tidak pernah mengecewakan. 

Anggun Bugarinda P
Walas 2 Generous

   Namanya Althath Syiero Hibridzi Takash. Biasa dipanggil Althath. Saat ini ia duduk di bangku kelas 2 Generous SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto. Althath adalah putra kedua dari bapak Enuch Siswantoro dan ibu Evi Widhiasri yang tinggal di kompleks Brobahan Purwokerto.
0 komentar

Kegiatan pagi di sekolah

Pagi Ceria

Pukul 07.00-07.30 merupakan saat yang menyenangkan bagi siswa SD Al Irsyad. Di waktu mereka melakukan berbagai kegiatan yang membantu siswa untuk siap belajar di hari itu. Walas kelas II telah membuat agenda pagi ceria yang beragam, ada kunjungan ke perpustakaan, game, menulis buku harian, dan calistung yang dikemas dalam permainan.
Agenda pagi ceria II Brave di hari Jumat adalah game, kali ini mereka bermain raja bola


Password masuk kelas

Sebelum masuk kelas ada password nya lho! Password berupa materi pelajaran. Kali ini ustadzah memberikan password berupa perkalian. Siswa berlomba-lomba menjawab dengan cara yang santun, bagi yang bisa menjawab dengan tepat akan dipersilahkan masuk kelas oleh ustadzah. Kegiatan ini mendorong siswa untuk percaya diri menjawab pertanyaan dan membangun jiwa kompetisi dalam diri siswa. Semakin cepat dia mampu menjawab maka semakin cepat dia masuk kelas.



0 komentar

Asyiknya Belajar Fiqih

Asyiknya Belajar Fiqih

Praktik Fiqih Level II SD Al Irsyad 01


Praktik membersihkan najis
Pagi ceria telah usai, namun siswa kelas II Brave justru keluar kelas. Mereka tampak bersemangat berbaris rapi menuju halaman masjid, dibimbing Ustadzah Narsiti. Siswa lantas berbaris per kelompok di depan kran.

Di baris depan sudah tersedia beberapa ember, kaos kaki, serta baju. Rupanya siswa kelas II Brave akan mempraktikkan membersihkan najis, materi pelajaran fiqih yang telah mereka terima pekan lalu.

Ustadzah Narsiti mengingatkan kembali tentang najis sembari mempraktikkan cara membersihkan najis ringan, sedang, dan berat. Secara teori siswa telah memahami dan mampu menjelaskan masing-masing jenis najis serta cara membersihkannya. Islam sangat menyukai keindahan dan kebersihan. Oleh karena itu, kita diharuskan mampu menjaga diri dan lingkungan kita untuk selalu bersih dan suci dari najis.




Praktik ini dapat membekali siswa ketrampilan tersebut. Selain bermanfaat untuk diri mereka sendiri, diharapkan mereka mampu menularkan pengetahuan dan ketrampilan ini kepada keluarga dan lingkungan sekitar. Jadi, ketika mereka mendapati pakaiannya atau tempat disekitarnya terkena najis mereka tidak akan menunggu bantuan orang lain, namun mampu membersihkannya sendiri.

Setelah melihat contoh dari guru, siswa kemudian mempraktikkan membersihkan najis. Siswa yang belum mendapat giliran harus memperhatikan dan menilai siswa yang sedang praktik, sehingga siswa harus memahami benar agar mampu mengkoreksi ketika ada temannya yang kurang tepat. Bagi yang sudah selesai, Ustadzah Narsiti memberikan worksheet yang harus mereka isi.

Inilah salah satu bentuk pembelajaran kontekstual di SD Al Irsyad 01 Purwokerto. Fiqih yang selama ini identik dengan materi hafalan, dikemas sedemikian rupa, sehingga siswa tertarik dan menikmati belajar fiqih bersama teman-teman dan guru. Fiqih tidak lagi menjadi pelajaran yang membosankan.


0 komentar

Program Unggulan Level II



                     Aneka Program Unggulan Level II SD Al Irsyad 01

Pendidikan tidak hanya mengedepankan aspek kognitif semata, namun aspek afektifpun perlu dibangun. Selama ini sekolah-sekolah Al Irsyad telah menerapkan pendidikan berbasis karakter, seperti yang sekarang sedang dilakukan pemerintah melalui penerapan Kurikulum 2013. Pendidikan tidak hanya bicara tentang nilai, namun lebih penting lagi membentuk peserta didik yang berkarakter, berakhaqul kharimah.

            Sejak tahun lalu, kami, SD Al Irsyad 01 telah melaksanakan program unggulan. Kalau tahun lalu masih dilaksanakan ditingkat level, untuk tahun ini dilaksanakan ditingkat kelas. Setiap kelas mempunyai program unggulan yang bertujuan untuk meningkatkan ketrampilan siswa serta membangun sikap-sikap yang baik pada diri siswa.

Berurutan dari kelas II Brave, II Amazing, II Optimistic, II Mercy, dan II Generous program unggulannya adalah membatik, mendaur ulang gelas plastik bekas minuman, puisi, boneka jari flannel, dan telur asin.

Kegiatan Membatik Kelas II Brave


                                                Menggambar pola batik pada kain


                                           Mengisi pola menggunakan canting

Latar belakang Ustadzah Gati walas II Brave memilih membatik adalah untuk mengenalkan siswa terhadap kekayaan budaya Jawa serta melatih motorik halus siswa. Siswa senang mengikuti instruksi dari pelatihnya yaitu Bu Sri, seorang pembatik dari Sokaraja. Kegiatan diawali dari menggambar pola pada kain hingga ‘nyanting’ (mengisi pola dengan cairan lilin menggunakan canting) dilakukan dengan senang. Saat ini mereka sedang menunggu untuk proses pewarnaan dan ‘nglorot’ (memasukkan kain kedalam air mendidih untuk melarutkan lilin). Setelah itu mereka bisa memajang hasil karyanya sendiri, alangkah senangnya.

 Daur Ulang II Amazing

                               Gelas plastik yang sudah dicat sedang digunting membentuk bunga

                                              Gelas diwarnai menggunakan cat

Melihat gelas plastik yang banyak berserakan, mendorong Ustadzah Kurnia walas II Amazing, untuk memanfaatkannya menjadi hiasan berupa bunga matahari. Komite kelaspun turut aktif dalam pelaksanaan program ini, mereka turut hadir membantu dan mengarahkan siswa untuk mengolah gelas-gelas plastik menjadi bunga matahari. Dengan tekun siswa menggambar pola, menggunting, dan mengecat gelas plastik tersebut sehingga menjadi bunga matahari yang berwarna kuning cerah.  Gelas-gelas plastik yang awalnya sampah kini telah menjadi bunga-bunga yang indah.

 Antologi Puisi II Optimistic

                                                   Siswa tampak asyik menulis puisi

                                                              Mendapat bimbingan dari ahlinya
                                                   
Kegemaran siswa II Optimistic terhadap puisi diakomodir oleh Ustadzah Isni, melalui program unggulan kelasnya yaitu menulis puisi. Heru Kurniawan, S. Pd. M. A. dosen STAIN pun diundang untuk menambah pengetahuan siswa mengenai menulis puisi. Puisi-puisi yang telah ditulis siswa nantinya akan didokumentasikan dalam bentuk buku “Antologi Puisi”. Kalau sekarang mereka menulis buku bersama-sama, diharapkan kelak siswa-siswa mampu menghasilkan buku hasil tulisannya sendiri. 

Boneka Jari  Flanel II Mercy


                                                                Menggambar pola boneka jari
                                            Gunting dengan rapi sesuai pola
 
Kelas II Mercy dibimbing Ustadzah Latri berkreasi membuat boneka jari kain flannel. Beraneka macam bentuk boneka tangan telah dirancang, tampak imut dan lucu. Pola-pola dibuat dikertas, kemudian dijiplak dikain flannel yang akan digunting. Agar lebih hidup, flannel akan diisi dengan dakron kemudian direkatkan dengan lem atau dijahit. Kegiatan ini diharapkan dapat memotivasi siswa untuk kreatif. Asyiknya bisa membuat mainan sendiri. Dengan boneka tangan ini mereka juga dapat bermain peran dengan temannya.

Telur Asin II Generous 

                                            Tumbuk dulu batu batanya hingga halus

                            Balut telur dengan adonan batubata dan garam sebelum disimpan

Tak kalah dengan kelas lain, Kelas II Generous diajak Ustadzah Anggun melakukan kegiatan yang menyenangkan yaitu membuat telur asin. Sebagian besar siswa sudah pernah makan telur asin tapi belum tahu proses pembuatannya. Hari Jumat yang biasanya mereka pulang pk 10.30, hari itu mereka pulang pk 14.00. Baju seragam telah berganti dengan kaos, mereka siap memulai proses pembuatan telur asin. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, ada yang bertugas menghaluskan batu bata, menghaluskan garam, membersihkan telur, dan menyiapkan tempayan untuk memeram telur. Batu bata dan garam yang telah halus diberi sedikit air kemudian dibalutkan ke telur. Telur-telur tersebut kemudian ditata ditempayan dan diperam.  Setelah 2 pekan, telur-telur tadi siap di ‘panen’, dicuci dan direbus. Nikmatnya makan telur asin buatan sendiri yang kaya akan gizi.
Melalui berbagai program unggulan diatas diharapkan siswa mendapat ketrampilan dan pengetahuan baru. Program unggulan kelas akan sukses apabila seluruh siswa tersebut saling mendukung dan bekerjasama. Nilai-nilai tersebut yang diharapkan bisa tertanam pada diri siswa.


0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. LEVEL II SD AL IRSYAD 01 PURWOKERTO - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger